alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Difabel di Tegal Jual Gas Keliling dan Mengajar demi Anaknya ke Pesantren

Ronald Seger Prabowo Rabu, 05 Mei 2021 | 03:15 WIB

Difabel di Tegal Jual Gas Keliling dan Mengajar demi Anaknya ke Pesantren
Achmad Arif Budiono saat akan mengantarkan gas kepada para pelanggan, Senin 3 Mei 2021.(Lilisnawati/Ayotegal)

Arif juga menceritakan awal mula kehilangan separuh kakinya saat mengalami kecelakaan tahun 1997.

SuaraJawaTengah.id - Kisah inspiratif datang dari pria paruh baya bernama Achmad Arif Budiyono. Meski mengalami keterbatasan fisik, sosok berusia 49 tak patah arang untuk membahagiakan keluarga dengan berjualan gas keliling.

Tak tanggung-tanggung, satu cita-citanya mulianya adalah bisa memasukkan anak-anaknya ke sebuah pondok pesantren (ponpes). Achmad mengalami keterbatasan fisik setelah salah satu kakinya diamputasi.

"Dari dulu memang saya pekerja keras, bahkan pantang menyerah saat masih sehat. Dulu motivasi saya ada ibu yang harus diobati karena struk, sekarang ada istri dan anak-anak," ungkap Achmad dilansir Ayotegal.com--jaringan Suara.com, Rabu (5/5/2021).

Sosok yang tinggal di Jalan Waringin, Kelurahan Mintaragen, Kota Tegal itu menceritakan, ia juga mengajar sebagai guru T4 (Tahsin, Tahfidz, Tadarus dan Tilawah) di SMP Ihsaniyah, Kota Tegal. Setelah itu, disambung lagi dengan aktivitasnya sebagai guru ngaji di Madrasah Al Bayan, Kota Tegal. 

Baca Juga: Waduh! Belasan Ribu Nelayan Bakal Serbu Tegal Saat Mudik Lebaran

"Bagaimana pun saya adalah seorang kepala keluarga dan seorang bapak yang punya tanggung jawab untuk menafkahi dan memberikan pendidikan yang cukup untuk anak-anak," tuturnya.

Arif juga menceritakan awal mula kehilangan separuh kakinya saat mengalami kecelakaan tahun 1997. Saat itu dirinya hendar pulang ke Tegal karena ingin memberikan gaji dan bonus untuk orang tua.

Nahas, saat perjalanan ke Tegal, dirinya kecelakaan di daerah Comal, Pemalang. Menurutnya, kedua kakinya waktu itu masih utuh, namun karena telatnya penanganan membuat kondisi kaki kanannya semakin parah.

"Waktu itu saya menolak diamputasi. Selama tiga tahun saya hanya di tempat tidur, pita suara sudah hilang, badan kaku. Baru kemudian saya punya semangat lagi dan akhirnya mau diamputasi," ucapnya.

Semangat pantang menyerahkan pun kembali menggebu. Di tahun 2002, ia mendapat tawaran pekerjaan sebagai penjaga toko grosir makanan ringan di Pasar Karangdawa milik saudaranya.

Baca Juga: Demi Memondokan Anak ke Pesantren, Tuna Daksa di Kota Tegal Ini Jualan Gas

Lima tahun kemudian, tepatnya di tahun 2007, ia mencari pekerjaan tambahan dengan berjualan gas keliling. Baru kemudian di tahun 2012, ia mendapat tawaran sebagai guru T4 di SMP Ihsaniyah dan tak lama kemudian ada tawaran lagi sebagai guru ngaji di Madrasah Al Bayan, Kota Tegal.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait