facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kota Semarang Terancam Tenggelam, Ternyata Sudah Sejak 30 Tahun Lalu Permukaan Tanah Turun

Budi Arista Romadhoni Minggu, 08 Agustus 2021 | 09:09 WIB

Kota Semarang Terancam Tenggelam, Ternyata Sudah Sejak 30 Tahun Lalu Permukaan Tanah Turun
Karyawan menyelamatkan sejumlah barang dari kantor yang terendam banjir di Stasiun Tawang, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (6/2/2021). [ANTARA FOTO/Aji Styawan]

Penurunan tanah di Kota Semarang sudah sejak 30 tahun lalu, kini kota atlas itu terancam tenggelam

SuaraJawaTengah.id - Penggunaan air tanah berlebihan disebut-sebut menjadi penyebab terjadinya penurunan air tanah di Kota Semarang. Sejumlah pakar memprediksi wilayah Kota Semarang, Jawa Tengah, di bagian utara bakal tenggelam dalam 50 tahun ke depan.

Menyadur dari Solopos.com, Pemerintah Kota Semarang mengatakan bahwa penurunan permukaan tanah di kawasan tersebut terjadi sejak 30 lalu.

“Saya pikir penurunan tanah atau land subsidence itu penelitian memang sudah lama ya, artinya bahwa ada penurunan tanah setiap tahun sekitar 10 cm. Tapi juga perlu penelitian lebih lanjut karena dalam sejarah kota Semarang, (penurunan muka tanah) land subsidence mulai terjadi 20-30 tahun lalu, tidak sejak dulu,” kata Sekda Kota Semarang, Iswar Aminuddin, Sabtu (8/8/2021).

Dia menyebut penurunan muka tanah di Semarang bukan hanya disebabkan pengambilan air tanah yang masif. Oleh sebab itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menyusun langkah antisipasi menyusul prediksi Semarang tenggelam.

Baca Juga: Pantura Jateng Terancam Tenggelam, Ini Tanggapan Gubernur Ganjar

Nasib sial dialami warga Kampung Tambakorok, Tanjung Emas Kota Semarang. Rumah mereka terkena rob lebih dari satu bulan. [Suara.com/Dafi Yusuf]
Nasib sial dialami warga Kampung Tambakorok, Tanjung Emas Kota Semarang. Rumah mereka terkena rob lebih dari satu bulan. [Suara.com/Dafi Yusuf]

“Sudah intens dilakukan (upaya antisipasi). Terbukti kemarin sudah selesai proyek SPAM Semarang Barat untuk berikan air bersih di kawasan Barat Kota Semarang. Jadi beberapa kecamatan yang tidak teraliri PDAM kini sudah beroperasional. Kawasan industri yang gunakan air tanah di sisi Barat sudah berkurang,” jelasnya.

Dalam hal ini Pemkot Semarang, Pemprov Jateng, serta pemerintah pusat bekerja sama untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satunya yakni membangun tol laut sekaligus berfungsi sebagai tanggul di kawasan Demak-Semarang serta tol pelabuhan.

“Kemudian antisipasi terjadi pengambilan air tanah berlebih, di dua tepat itu di Tol Semarang-Demak akan dibangun kolam retensi di samping pengendali banjir kita berharap kolam retensi yang luasnya kurang lebih 200 sekian hektare dengan rencana yang ada insyaallah air bersih di kawasan itu bisa terpenuhi, sehingga industri di kawasan utara tidak mengambil air tanah,” jelasnya.

Foto udara proyek pembangunan Jalan Tol Semarang - Demak seksi II di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Selasa (13/4/2021).  ANTARA FOTO/Aji Styawan
Foto udara proyek pembangunan Jalan Tol Semarang - Demak seksi II di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Selasa (13/4/2021). ANTARA FOTO/Aji Styawan

Selain itu Pemkot Semarang juga berupaya mengembalikan fungsi sungai. Kajian tentang rencana tersebut telah dilakukan bersama dengan Kerajaan Belanda.

“Mengembalikan fungsi sungai. Sungai kan fungsinya tampung air hujan, saat kemarau dimanfaatkan masyarakat. Sekarang tidak, kalau hujan kadang banjir, kemarau kering, ini juga persoalan. Kajian yang dilakukan dengan water as leverage,” tegasnya.

Baca Juga: Disebut Lebih Parah dari Jakarta, Tiga Daerah di Jateng Terancam Tenggelam

Iswar menambahkan Semarang memang akan tenggelam jika tidak diantisipasi dengan baik. Namun dia menegaskan dengan sederet langkah yang dilakukan, maka dia optimistis hal itu tidak akan terjadi.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait