alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pengamat Intelijen Kaitkan Bahasa Arab dengan Terorisme, Ini Penjelasannya

Budi Arista Romadhoni Kamis, 09 September 2021 | 09:29 WIB

Pengamat Intelijen Kaitkan Bahasa Arab dengan Terorisme, Ini Penjelasannya
Ilustrasi terorisme. Pengamat intelijen ini menjadi sorotan karena mengaitkan bahasa arab dengan terorisme, begini penjelasannya. [Shutterstock]

Pengamat intelijen ini menjadi sorotan karena mengaitkan bahasa arab dengan terorisme, begini penjelasannya

SuaraJawaTengah.id - Terorisme menjadi momok yang menakutkan sebuah negara. Namun, teroris selalu dikaitkan dengan agama Islam. 

Kekinian, terorisme dikaitkan dengan bahasa komunikasi. Salah satunya bahasa arab

Menyadur dari Hops.id, pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati belakangan menjadi sorotan publik usai menyinggung bahasa Arab dalam pemaparannya mengenai terorisme di Indonesia.

Dia secara tegas memastikan, pernyataannya tersebut tak bermaksud menghina atau merendahkan Islam. Sebab, dia sendiri merupakan penganut kepercayaan itu dan menghormati seluruh ajarannya.

Baca Juga: Sahabat Pendukung Munarman Desak Munarman Dibebaskan

“Saya sebagai Muslim secara sadar sangat menghormati Islam sebagai agama saya. Ajaran Islam yang saya pelajari adalah agama yang cinta sesama bahkan juga dengan umat beragama lain.” ujar wanita yang karib disapa Nuning tersebut, Kamis (9/9/2021).

Sejak dulu, Nuning percaya, Islam merupakan agama rahmatan lil alamin, petunjuk bagi alam semesta. Sehingga, mana mungkin dia menuding agama tersebut sebagai embrio atau bibit terorisme.

“Saya pun menyampaikan apa adanya berbagai temuan terkait dengan embrio terorisme (radikalisme), termasuk cikal bakalnya yang tumbuh berkembang diawali dari dunia pendidikan di negara kita. Hal ini yang saya utarakan pada webinar tersebut,” tuturnya.

Pengajar di Universitas Pertahanan atau Unhan itu menegaskan, tak semua lembaga pendidikan di Indonesia berbasis ajaran Islam, bisa dikatakan sebagai embrio radikalisme, atau bahkan terafiliasi dengan Taliban.

“Masih ada yang mengikuti peraturan perundangan yang berlaku. Soal pendidikan itu, sudah ada banyak lembaga yang sudah meriset hal ini,” terangnya.

Baca Juga: Mayoritas Mantan Napiter Tolak Divaksin, Jebolan Bom Bali I: Banyak yang Belum Percaya

Susaningtyas pastikan Bahasa Arab bukan ciri terorisme

Pengamat Intelijen Susaningtyas Kertopati [Foto: Ist/hops.id]
Pengamat Intelijen Susaningtyas Kertopati [Foto: Ist/hops.id]

Nuning sekali lagi memastikan, dirinya tak pernah mengatakan bahasa Arab sebagai ciri atau lambang terorisme. Dia merasa media kurang lengkap dalam mengutip pernyataannya, sehingga terjadilah kesalahpahaman yang membingungkan.

“Perlu saya tambahkan, saya sangat menjunjung tinggi adat budaya Indonesia yang adhiluhung dan rasa cinta Tanah Air Indonesia. Sehingga tentu apa yang saya sampaikan tidak lain tidak bukan, karena saya ingin mengajak serta bangsa ini memiliki patriotisme dalam bela negara,” urainya.

Lebih jauh, Nuning mengaku sangat hormat terhadap bahasa Arab. Dia menegaskan, ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional.

“Dalam hal ini mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengan saya,” kata Nuning.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait