Leni menyebut, hasil dari penjualan tersebut bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.
"Ya uang muter lah, bisa untuk keluarga juga," ujarnya.
Namun demikian, Leni meragukan olahan coklatnya itu bisa dijual sampai ke luar negari atau ekspor.
"Kalau coklat mungkin saya jualnya lokal-lokal aja. Kelau ekspor kalah di luar negeri.
Baca Juga:Ajak UMKM Binaan BRI Naik Kelas, Rumah BUMN Semarang Gelar Pelatihan Bikin Vlog
Gabung ke Rumah BUMN
Leni mengungkapkan, bergabung denga Rumah BUMN BRI Semarang adalah keputusan yang tepat. Apalagi perkembangan teknologi membuatnya harus belajar lagi soal marketing.
"Rumah BUMN gabung sebelum pandemi 2019/ 2018. Saya seneng ikut pelatihan sosmed pemasaran, dan dapat fasilitas pameran," ucapnya.
Ia menyadari perubahan prilaku orang kini telah berubah, khususnya soal sistem belanja.
"Tiga tahun pandemi orang sudah berubah. Sekarang pada beli online lewat TikTok. Ya kita harus mengikut perkembangan teknologi. Kami harus update dan mengikut tren yang terbaru," ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN Semarang, Endang Sulistiawati mengungkapkan kini sudah ada 7.000 UMKM yang bergabung.
Baca Juga:Rumah BUMN BRI Semarang Fasilitasi UMKM Jualan Hampers Lebaran
Rumah BUMN Semarang sampai saat ini telah memfasilitasi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan menggelar berbagai pelatihan yang dibutuhkan untuk pengembangan usaha.