- Kawasan Industri Terboyo dikeluhkan karena infrastruktur jalan buruk meskipun telah dibayar iuran pemeliharaan rutin.
- Keluhan utama meliputi jalan berlubang, berdebu, dan tergenang saat hujan, menghambat distribusi barang oleh sopir truk.
- Pemilik pabrik dan buruh menuntut transparansi pengelolaan dana iuran demi perbaikan fasilitas kawasan industri segera terlaksana.
SuaraJawaTengah.id - Kawasan industri Terboyo di Semarang kini menjadi sorotan publik karena keluhan dari berbagai pihak terkait masalah infrastruktur yang tidak terawat, meskipun ada iuran pemeliharaan kawasan yang dibayar setiap bulan.
Beberapa pihak yang terdampak langsung termasuk sopir truk, buruh, dan pemilik pabrik.
Di balik iuran pemeliharaan kawasan yang tinggi, ada sejumlah persoalan yang dikeluhkan oleh warga industri setempat.
Keluhan ini berfokus pada kualitas jalan yang sangat buruk dan tidak terawat, meskipun mereka sudah membayar sejumlah uang untuk pemeliharaan kawasan.
Baca Juga:Kisah Pelaku Usaha Angkringan Kota Semarang, Bangkitkan Ekonomi Keluarga Lewat KUR BRI
Salah satu keluhan utama yang disampaikan oleh para sopir truk adalah kondisi jalan di sekitar kawasan industri Terboyo yang sangat buruk.
Jalanan yang berlubang dan berdebu membuat aktivitas distribusi barang menjadi terhambat. Apalagi, saat hujan deras mengguyur kawasan industri, genangan air menghalangi jalanan dan semakin memperburuk kondisi infrastruktur yang sudah rusak.
Dalam caption Instagram akun @informasiseputarsemarang yang beredar, tertulis: "Karcis Retribusi Iuran Pemeliharaan Kawasan Apanya yang Dipelihara ???"
Caption ini mencerminkan kekecewaan warga kawasan industri, yang merasa tidak mendapatkan layanan yang sesuai dengan pembayaran yang mereka lakukan.
Pada gambar yang menyertakan genangan air di jalan, terlihat bagaimana hujan deras membuat jalan semakin sulit dilalui oleh kendaraan besar seperti truk.
Baca Juga:Kepesertaan JKN Kota Semarang Capai 99,88 Persen, Lampaui Target RPJMN
Meskipun iuran retribusi sebesar Rp3.000 untuk setiap pickup, box, dan engkel sudah dipungut, kondisi jalan justru semakin memburuk. Hal ini memicu protes dari masyarakat yang merasa tidak mendapat manfaat langsung dari pembayaran yang mereka lakukan.
Iuran Tak Sesuai dengan Hasilnya
Keluhan lain datang dari para pemilik pabrik yang merasa bahwa iuran yang dibayar tidak mencerminkan pemeliharaan yang optimal.
Iuran tersebut seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur di kawasan industri, namun kenyataannya banyak fasilitas yang belum diperbaiki. Sejumlah pekerja dan buruh juga mengeluhkan ketidaknyamanan bekerja di kawasan industri yang tidak ramah lingkungan dengan jalanan yang rusak.
Dalam sebuah posting Instagram yang beredar luas, gambar yang menunjukkan jalan berlumpur dan berlubang di kawasan industri ini mendapatkan banyak perhatian dari masyarakat. Sebagian besar komentar yang muncul pun menyatakan rasa frustrasi terhadap perbedaan antara apa yang dijanjikan dan apa yang diterima oleh pengguna kawasan industri tersebut.
Kawasan industri Terboyo bukan satu-satunya kawasan industri yang menghadapi masalah serupa. Di banyak kawasan industri lainnya, keluhan mengenai pemeliharaan infrastruktur dan pengelolaan retribusi juga sering terdengar.