Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug

Museum Nelayan Tanpa Perahu lestarikan tradisi nelayan Kali Progo. Rencana tambang tanah urug ancam ekosistem, budaya, dan cara hidup warga yang bergantung pada sungai.

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 04 Maret 2026 | 04:27 WIB
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
Tiyok menunjukkan alat alat tradisional penangkap ikan peninggalan leluhur warga Dusun Gleyoran, Sambeng. (Suara.com/ Angga Haksoro A). 
Baca 10 detik
  • Museum Nelayan Tanpa Perahu di Dusun Gleyoran menjaga tradisi nelayan Kali Progo yang mencari ikan tanpa perahu.
  • Erupsi Merapi 2010 dan sampah menyebabkan ikan langka, mengancam mata pencaharian dan identitas budaya warga.
  • Warga menolak rencana tambang tanah urug karena mengancam keseimbangan ekologis, resapan air, dan kelangsungan sungai.

Tiyok menyebut ikan kekel—sejenis lele kecil seukuran kelingking yang dulu mudah dijaring saat banjir, kini tak pernah terlihat lagi. “Sidat masih ada tapi jumlahnya jauh berkurang. Yang relatif bertahan tinggal melem dan tawes.”

Setiap tahun warga menebar benih tawes, beong, dan wader. Upaya menambah jumlah ikan di Kali Progo belum mampu mengembalikan kondisi seperti dahulu.

Masalah lain datang dari hulu dan permukiman. Sampah plastik rumah tangga yang dibuang ke parit ikut hanyut ke sungai. “Plastik itu kan mengandung bahan kimia. Pengaruh juga pada perkembangan ikan,” ujar Tiyok.

Di tengah situasi itu, Museum Nelayan Tanpa Perahu menjadi ruang perlawanan sunyi. Tiyok dan kelompok pengawas masyarakat rutin menggelar bersih sungai dan edukasi kepada anak-anak sekolah.

Baca Juga:Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar

Anak-anak diajak menyusuri sungai, mengenal jenis ikan, sekaligus memungut sampah. Mereka juga diajak menebar benih. “Kalau alamnya rusak, kita mau mengenalkan apa?”

Warisan Bentang Alam

Warga Desa Sambeng, Borobudur melakukan unjuk rasa memasang spanduk menolak penambangan tanah urug. (Suara.com/ Angga Haksoro A).
Warga Desa Sambeng, Borobudur melakukan unjuk rasa memasang spanduk menolak penambangan tanah urug. (Suara.com/ Angga Haksoro A).

Pertanyaan itu kini terasa makin mendesak. Di perbukitan Desa Sambeng, spanduk penolakan penambangan tanah urug terpasang di berbagai titik. Rencana tambang dinilai mengancam keseimbangan ekologis kawasan.

Bagi warga, bukit bukan sekadar tanah. Tapi penyangga air, ruang resapan, serta tampungan mata air. Jika dikeruk, vegetasi hilang, tanah gundul, dan risiko banjir meningkat.

Air hujan yang tidak lagi terserap akan mengalir deras melalui anak-anak sungai ke Kali Progo. “Kami khawatir banjir bandang. Sungai rusak, ikan hilang. Kampung juga bisa kena dampaknya.”

Baca Juga:Trauma Tambang Pasir Progo Belum Usai, Kini Tanah Urug Menghantui Warga Desa Sambeng

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Mereka melihat contoh kerusakan lingkungan di berbagai daerah yang berujung pada bencana besar—air bah dan tanah longsor.

Dalam perspektif warga Gleyoran, tambang bukan hanya soal izin, tetapi soal kelangsungan hidup. “Sekarang saja ikan sudah berkurang. Nyari buat lauk sendiri saja susah. Apalagi nanti kalau sungainya rusak,” ujarnya.

Secara administratif, Desa Sambeng berada di kawasan penyangga Candi Borobudur. Objek warisan budaya dunia yang seharusnya dilindungi dari aktivitas ekstraktif yang merusak lanskap.

Menggugat Izin Tambang

Tiyok mempertanyakan mengapa proses perizinan tambang masih berjalan. Dia menyampaikan keberatan itu kepada Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) yang mengelola sumber daya air Kali Progo.

Baginya, regulasi cagar budaya dan kawasan wisata seharusnya menjadi rujukan utama. “Harusnya izin pertambangan langsung tertolak.”

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak