- Biaya masuk Kedokteran Undip jalur mandiri tahun 2025/2026 mencakup Iuran Pengembangan Institusi hingga mencapai Rp250 juta rupiah.
- Mahasiswa kedokteran di Undip juga diwajibkan membayar Uang Kuliah Tunggal tertinggi sebesar Rp22 juta setiap semesternya.
- Besaran biaya pendidikan ditentukan berdasarkan jalur masuk seleksi serta sistem golongan sesuai kemampuan ekonomi setiap mahasiswa.
Perbedaan ini membuat jalur seleksi nasional menjadi lebih diminati, terutama bagi calon mahasiswa yang mempertimbangkan aspek biaya.
Sistem Golongan Disesuaikan dengan Kemampuan Ekonomi
Pihak kampus menetapkan sistem golongan UKT dan IPI berdasarkan kondisi ekonomi mahasiswa.
Semakin tinggi kemampuan ekonomi yang dinilai, maka semakin besar pula biaya yang harus dibayarkan.
Baca Juga:Karut-marut Lahan Makin Pelik, Badan Bank Tanah Gandeng Kampus Undip Cari Solusi
Skema ini bertujuan untuk menciptakan sistem pembiayaan yang lebih proporsional. Namun, pada praktiknya, tetap muncul perdebatan terkait besaran biaya, khususnya pada jalur mandiri.
Biaya Besar Jadi Realita Pendidikan Kedokteran
Tingginya biaya pendidikan di jurusan Kedokteran sebenarnya bukan hal baru. Program studi ini memang dikenal memiliki kebutuhan fasilitas dan praktik yang lebih kompleks dibanding jurusan lain.
Mulai dari laboratorium, alat kesehatan, hingga praktik klinis, semuanya membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit.
Hal inilah yang kemudian berkontribusi pada tingginya biaya pendidikan yang harus ditanggung mahasiswa.
Baca Juga:Kasus Penyekapan Polisi di Undip, Dua Mahasiswa Divonis Ringan dan Langsung Bebas
Jadi Pertimbangan Serius Calon Mahasiswa
Besarnya biaya masuk Kedokteran Undip, terutama melalui jalur mandiri, menjadi pertimbangan penting bagi calon mahasiswa dan keluarga.
Perbandingan dengan harga motor hingga mobil bukan sekadar analogi, tetapi gambaran nyata dari besarnya investasi yang harus disiapkan.
Meski demikian, beberapa skema pembayaran seperti cicilan UKT dapat menjadi opsi untuk meringankan beban.
Ke depan, transparansi dan akses pendidikan yang lebih inklusif tetap menjadi harapan banyak pihak agar pendidikan kedokteran dapat dijangkau lebih luas.
Kontributor : Dinar Oktarini