SuaraJawaTengah.id - Ratusan warga di Perumahan Dahlia, Meteseh, Tembalang, Semarang, harus mengungsi setelah hujan deras semalam menyebabkan tanggul Sungai Tunggu jebol, Rabu (11/12/2024). Akibatnya, air meluap hingga merendam pemukiman dengan ketinggian 70-80 cm.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro P. Martanto, mengungkapkan bahwa tanggul yang jebol sepanjang dua kali 20 meter tersebut merupakan dampak dari derasnya aliran air sungai.
“Tanggul Sungai Tunggu jebol akibat hujan deras, mengakibatkan air meluap ke wilayah RT 08 RW 09. Tidak ada korban jiwa, tetapi sebanyak 150 warga dari 45 KK terdampak banjir ini,” jelas Endro.
Saat ini, BPBD telah melakukan asesmen dan mendatangkan pompa untuk mengurangi genangan air. Selain itu, dapur umum telah didirikan untuk membantu warga terdampak. Kerugian akibat bencana ini masih dalam pendataan.
Baca Juga:PSIS vs Bali United: Voucher Tiket Masih Berlaku! Begini Cara Penukarannya
Cuaca Ekstrem di Jateng
Sementara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau seluruh masyarakat di wilayah Jawa Tengah (Jateng) untuk mewaspadai cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi pada tanggal 12-18 Desember 2024.
"Berdasarkan informasi yang dirilis BMKG Stasiun Meteorologi (Stamet) Ahmad Yani Semarang tadi malam (11/12), saat ini wilayah Indonesia terpantau adanya gangguan atmosfer yang menyebabkan peningkatan potensi cuaca ekstrem di wilayah di Jateng," kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stamet Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo dikutip dari ANTARA pada Kamis (12/12/2024).
Dalam hal ini, kata dia, berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini menunjukkan aktifnya gangguan atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) serta adanya bibit siklon tropis di selatan Pulau Jawa dan Nusa Tenggara yang menyebabkan pembentukan wilayah pertemuan massa udara serta belokan angin di Jateng.
Selain itu, pola belokan angin dan konvergensi terlihat dominan untuk wilayah Pulau Jawa termasuk Jateng, kelembapan udara di berbagai ketinggian cenderung basah sehingga berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan yang menjulang hingga ke lapisan atas, serta labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal diamati di Jateng.
Baca Juga:Terpukau dengan Stadion Jatidiri, Hinca Panjaitan Mantap Gabung ke PSIS Semarang
"Kondisi tersebut mengakibatkan meningkatnya pertumbuhan awan konvektif atau awan Cumulunimbus) yang berpotensi menyebabkan curah hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang di wilayah Jateng," katanya menjelaskan.
Ia mengatakan berdasarkan pantauan hasil analisis dinamika atmosfer tersebut, beberapa wilayah Jateng yang perlu diwaspadai memiliki potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang pada tanggal 12-18 Desember 2024 meliputi Kota/Kabupaten Magelang, Kota/Kabupaten Pekalongan, Kota Salatiga, Kota/Kabupaten Semarang, Kota Surakarta, dan Kota/Kabupaten Tegal.
Selanjutnya, Kabupaten Banjarnegara, Banyumas, Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Cilacap, Demak, Grobogan, Jepara, Karanganyar, Kendal, Kebumen, Klaten, Kudus, Pati, Pemalang, Purbalingga, Purworejo, Rembang, Sukoharjo, Sragen, Temanggung, Wonogiri,
Wonosobo, dan sekitarnya.
"Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah rawan bencana diimbau untuk terus waspada dan siaga terutama saat terjadi hujan lebat untuk mengantisipasi dampak yang dapat terjadi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, sambaran petir, dan pohon tumbang," katanya.
Terkait dengan keberadaan bibit siklon tropis selatan Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, dia mengatakan hal itu berdampak terhadap peningkatan tinggi gelombang di wilayah Samudra Hindia selatan Jawa Barat (Jabar), Samudra Hindia selatan Jateng, dan Samudra Hindia selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Dalam hal ini, kata dia, tinggi gelombang di wilayah Samudra Hindia selatan Jabar hingga DIY pada hari Kamis (12/11) berpotensi mencapai kisaran 2,5-4 meter yang masuk kategori gelombang tinggi dan kondisi tersebut diprakirakan akan berlangsung hingga hari Sabtu (14/12).