- Serangan AS dan Israel pada 28 Februari menghantam tiga fasilitas nuklir utama Iran di Isfahan, Natanz, dan Fordo.
- IAEA mengonfirmasi kerusakan serius namun tidak total, membuka kemungkinan dimulainya kembali pengayaan uranium dalam beberapa bulan.
- Kegagalan diplomasi memicu eskalasi, ditandai Iran memperkuat kompleks bawah tanah yang belum pernah diserang.
Di tengah ketidakpastian, citra satelit menunjukkan aktivitas yang mengkhawatirkan. Laporan dari Institute for Science and International Security (ISIS) mengungkapkan bahwa pekerjaan konstruksi telah dilakukan di situs Natanz dan Isfahan dalam beberapa bulan terakhir, termasuk pemasangan atap baru.
![Foto satelit kediaman Pemimpin Besar Iran Ayatolla Ali Khamenei di Teheran yang hancur dirudal Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026). [Airbus/Soar Atlas]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/28/28500-kediaman-pemimpin-besar-iran-ayatolla-ali-khamenei.jpg)
Lebih dari itu, Iran terdeteksi sedang memperkuat kompleks bawah tanah, Gunung Kolang Gaz La, yang terletak di dekat Natanz dan belum pernah diserang.
Langkah ini mengindikasikan Iran tidak menyerah dan justru berupaya membuat fasilitasnya lebih tahan terhadap serangan di masa depan.
Penilaian Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) pada Mei tahun lalu menyimpulkan Iran dapat memproduksi uranium tingkat senjata yang cukup untuk perangkat nuklir pertama dalam "kemungkinan kurang dari seminggu".
Baca Juga:Fakta-fakta Mengejutkan Reza Pahlavi, Sosok yang Ingin Gulingkan Rezim Iran
Meski memproduksi bahan fisil tidak sama dengan memiliki bom fungsional, kemajuan Iran di bidang ini tetap menjadi ancaman serius bagi stabilitas regional, khususnya bagi Israel dan AS.